Surakarta – Anggota DPR RI asal Jawa Timur, Yordan, menegaskan bahwa semangat kebhinekaan di provinsi dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Indonesia ini masih terjaga dengan baik. Menurutnya, Jawa Timur mampu menjadi contoh bagaimana perbedaan budaya, agama, dan suku dapat dirangkai menjadi kekuatan dalam membangun daerah.
Kebhinekaan Jadi Identitas Jawa Timur
Yordan menyebut, Jawa Timur dikenal sebagai provinsi yang memiliki keragaman masyarakat, mulai dari etnis Jawa, Madura, Osing, hingga pendatang dari berbagai daerah di Indonesia. Keberagaman itu juga tercermin dalam kehidupan beragama yang harmonis antara umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
“Jawa Timur adalah miniatur Indonesia. Di sini kita bisa melihat bagaimana perbedaan bukan menjadi pemisah, tetapi justru perekat dalam memperkuat pembangunan,” ujar Yordan, Kamis (4/9).
Peran Tokoh Agama dan Budaya
Menurut Yordan, salah satu kunci terjaganya kebhinekaan di Jawa Timur adalah peran tokoh agama dan tokoh masyarakat yang aktif membangun dialog lintas iman. Tradisi budaya seperti sedekah bumi, tahlilan, hingga perayaan keagamaan bersama juga menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan.
“Para kiai, pendeta, pastor, dan pemuka agama lain di Jawa Timur sangat luar biasa. Mereka aktif mengingatkan masyarakat bahwa perbedaan harus dijaga, bukan dijadikan alasan untuk bertikai,” katanya.
Tantangan Era Digital
Meski demikian, Yordan tidak menutup mata bahwa tantangan kebhinekaan semakin berat di era digital. Arus informasi yang begitu deras membuat hoaks dan ujaran kebencian mudah tersebar. Ia mengingatkan masyarakat agar bijak menggunakan media sosial dan tidak mudah terprovokasi isu SARA.

Baca juga: Agustina Wilujeng Resmikan Jalan YB Mangunwijaya
“Kebhinekaan di Jawa Timur berjalan baik, tapi tidak boleh kita lengah. Semua pihak harus waspada agar tidak ada pihak-pihak tertentu yang mencoba memecah belah dengan isu intoleransi,” tegasnya.
Pemerintah Daerah dan Pemuda Punya Peran Strategis
Lebih jauh, Yordan menekankan pentingnya sinergi pemerintah daerah, aparat keamanan, serta organisasi kepemudaan dalam merawat kebhinekaan. Ia menilai generasi muda harus diberikan ruang lebih luas untuk berkreasi, berdialog, dan membangun jaringan lintas budaya.
“Anak-anak muda Jawa Timur itu kreatif. Kalau diberi wadah, mereka bisa menjadi agen toleransi dan persatuan. Inilah yang akan membuat kebhinekaan semakin kokoh,” ujarnya.
Harapan untuk Indonesia
Yordan berharap, kondisi Jawa Timur yang kondusif dan penuh toleransi dapat menjadi inspirasi bagi provinsi lain di Indonesia. Dengan kebersamaan, ia yakin bangsa Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan, termasuk dinamika politik dan ekonomi global.
“Kebhinekaan bukan sekadar slogan, tapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Jawa Timur sudah membuktikan, dan semoga hal ini bisa terus berlanjut demi Indonesia yang lebih damai dan sejahtera,” pungkasnya.




